<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>komentatorlepas.net</title>
	<atom:link href="http://komentatorlepas.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://komentatorlepas.net</link>
	<description>Jurnalisme terlalu penting untuk hanya dipercayakan kepada para wartawan, atau mereka yang mengaku wartawan.—Farid Gaban</description>
	<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 09:02:38 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Yang mana yang benar?</title>
		<link>http://komentatorlepas.net/2008/06/yang-mana-yang-benar/</link>
		<comments>http://komentatorlepas.net/2008/06/yang-mana-yang-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 10:12:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikram</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Current Issue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komentatorlepas.net/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Komisi Besar I Ketut Untung Yoga Ana, Kepala Hubungan Masyarakat Kepolisian Jakarta, rupanya seseorang yang cepat sekali berubah pikiran. Ini bisa kita lihat di dua berita di dua media online yang mengutip pandangannya tentang sebuah sayembara hari ini.
Sayembara itu sendiri digelar oleh Forum Betawi Rempug, dan menawarkan Rp 100 juta kepada siapapun yang berhasil menangkap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Komisi Besar I Ketut Untung Yoga Ana, Kepala Hubungan Masyarakat Kepolisian Jakarta, rupanya seseorang yang cepat sekali berubah pikiran. Ini bisa kita lihat di dua berita di dua media online yang mengutip pandangannya tentang sebuah sayembara hari ini.</p>
<p>Sayembara itu sendiri digelar oleh Forum Betawi Rempug, dan menawarkan Rp 100 juta kepada siapapun yang berhasil menangkap pria bersenjata yang dicurigai menjadi provokator dalam insiden Monas.</p>
<p>Pada 15:36 WIB, di <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/06/tgl/23/time/153640/idnews/960924/idkanal/10">detik.com</a>, Ketut Untung dikutip mengatakan:</p>
<blockquote><p>&#8220;Ini baru pertama kali. Saya baru dengar. Nggak ada aturan yang melarang. Kalau begitu (buat sayembara), namanya ikut membantu mencari. Nggak masalah,&#8221;</p></blockquote>
<p>Tapi sekitar setengah jam kemudian, pada 16:03 WIB, kepada <a href="http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/06/23/1/121405/polda-metro-tak-mau-tanggapi-sayembara-fbr">okezone.com</a>, dia dikutip:</p>
<blockquote><p>&#8220;Kita tidak nanggapi. Jagan buat berita enggak mendidik. Itu berita yang tidak mendidik, buat berita yang positif lah,&#8221;</p></blockquote>
<p>Pendirian Ketut Untung yang berubah-ubah terhadap usaha main tangkap sendiri seperti ini, sungguh disayangkan. Polisi semestinya tegas dong. Sayembara seperti itu dibolehkan tidak?</p>
<p>Jangan pertama bilang &#8220;nggak masalah&#8221; tapi kemudian &#8220;nggak menanggapi&#8221;. Yang mana yang benar?</p>
<p>Jangan bikin warganegara biasa-biasa seperti saya kembali penasaran: Apa yang kira-kira dilakukan polisi untuk meredakan kegaduhan, di saat orang-orang menangkapi satu sama lain demi Rp 100 juta?</p>
<p>PS. &#8220;Jagan&#8221; sepertinya salah ketik. Seharusnya &#8220;Jangan&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komentatorlepas.net/2008/06/yang-mana-yang-benar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Satu milenium seribu tahun</title>
		<link>http://komentatorlepas.net/2008/05/satu-milenium-seribu-tahun/</link>
		<comments>http://komentatorlepas.net/2008/05/satu-milenium-seribu-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 May 2008 14:29:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikram</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Language]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komentatorlepas.net/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Azyumardi Azra, mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah, mungkin sedang terburu-buru menulis sehingga tidak ingat bahwa satu milenium itu seribu tahun, bukan seratus.

Itulah sebabnya dalam kolomnya di Republika hari ini, kita bisa menemukan tiga kata &#8220;milenium&#8221; yang tidak pada tempatnya.

Pada judul: &#8220;Kebangkitan Nasional Milenium II&#8221;
Pada alinea pertama: &#8220;Hari-hari ini, bangsa Indonesia memperingati 100 tahun atau satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.azyumardiazra.com/">Azyumardi Azra</a>, mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah, mungkin sedang terburu-buru menulis sehingga tidak ingat bahwa <a href="http://dictionary.reference.com/browse/millennium">satu milenium itu seribu tahun</a>, bukan seratus.</p>
<p><span id="more-53"></span></p>
<p>Itulah sebabnya dalam <a href="http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=334014&amp;kat_id=19">kolomnya di <em>Republika</em> hari ini</a>, kita bisa menemukan tiga kata &#8220;milenium&#8221; yang tidak pada tempatnya.</p>
<ol>
<li>Pada judul: &#8220;Kebangkitan Nasional <span style="text-decoration: underline;">Milenium</span> II&#8221;</li>
<li>Pada alinea pertama: &#8220;Hari-hari ini, bangsa Indonesia memperingati 100 tahun atau satu <span style="text-decoration: underline;">milenium</span> Kebangkitan Nasional 2008.&#8221;</li>
<li>Pada alinea keempat: &#8220;Jika pada masa Kebangkitan Nasional 1908, <em>imagined communities</em> itu mengambil reka bentuk dasarnya dalam sebuah &#8216;negara-bangsa&#8217; Indonesia yang merdeka dan berdaulat, apakah imajinasi kreatif bangsa ini untuk seabad ke depan dalam masa-masa Kebangkitan Nasional menginjak <span style="text-decoration: underline;">milenium</span> kedua?&#8221;</li>
</ol>
<p>Sekiranya yang dimaksud adalah seratus tahun, sebaiknya semua &#8220;milenium&#8221; diganti &#8220;abad&#8221;.</p>
<p>Dan sekiranya Pak Azyumardi Azra butuh proofreader pribadi, sebaiknya&#8230; Ah nggak jadi ah hehehe :P</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komentatorlepas.net/2008/05/satu-milenium-seribu-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang parkir khusus pengendara perempuan</title>
		<link>http://komentatorlepas.net/2008/04/tentang-parkir-khusus-pengendara-perempuan/</link>
		<comments>http://komentatorlepas.net/2008/04/tentang-parkir-khusus-pengendara-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 20:53:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikram</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Current Issue]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komentatorlepas.net/2008/04/tentang-parkir-khusus-pengendara-perempuan/</guid>
		<description><![CDATA[Kebijakan beberapa pengelola gedung perbelanjaan yang sengaja menyisihkan tempat parkir bagi pengendara perempuan, meski terkesan seperti penghargaan, sesungguhnya adalah sebuah pelecehan yang tidak boleh didiamkan.

Malam minggu lalu, saya bersama paman saya pergi ke Plaza Senayan. Ini salah satu di antara beberapa gedung yang menyediakan tempat parkir khusus perempuan.
Kami merasakan betul susahnya mencari tempat parkir di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebijakan beberapa pengelola gedung perbelanjaan yang sengaja menyisihkan tempat parkir bagi pengendara perempuan, meski terkesan seperti penghargaan, sesungguhnya adalah sebuah pelecehan yang tidak boleh didiamkan.</p>
<p><span id="more-52"></span></p>
<p>Malam minggu lalu, saya bersama paman saya pergi ke Plaza Senayan. Ini salah satu di antara beberapa gedung yang menyediakan tempat parkir khusus perempuan.</p>
<p>Kami merasakan betul susahnya mencari tempat parkir di sana. Maklum, malam minggu. Berputar-putar setengah jam, kami tak juga menemukan tempat kosong. Ketika ada yang kosong, eh sudah dipagari rantai—buat pengendara perempuan itu.</p>
<p>“Lady drivers only,” tulisannya.</p>
<p>Para pengelola gedung semestinya menjelaskan atas dasar apa mereka menyediakan tempat parkir khusus perempuan.</p>
<p>Perempuan dipandang tidak sanggup mencari parkir sendiri—di tempat lain yang mungkin lebih sempit? Perempuan dipandang tak sabar keliling mencari parkir?</p>
<p>Kalau benar dipandang demikian, terbukti pengelola gedung memang melecehkan perempuan. Tapi kalau tidak, lantas buat apa dong ada tempat parkir khusus?</p>
<p>Pengelola gedung kan tidak boleh membeda-bedakan fasilitas pengunjungnya berdasarkan jenis kelamin semata.</p>
<p>Kalau alasannya demi melindungi perempuan dari kemungkinan terkena pelecehan seksual, sebagaimana alasan pengelola Transjakarta yang berencana menyediakan bus khusus penumpang wanita, saya masih bisa paham. Itu sebuah alasan kuat. Wanita memang harus dilindungi.</p>
<p>Saya saja yang kurus kering merasa risih jika harus bertempelan pantat dan pamer ketiak bersama orang lain, apalagi wanita. Lagipula yang namanya kegiatan seksual—apapun bentuknya—seharusnya berlangsung sama-sama enak. Bukan yang satu enak, yang satu lagi enek.</p>
<p>Tapi dalam kasus parkir khusus, perempuan dilindungi dari apa?</p>
<p>Benar-benar pelecehan yang tidak boleh didiamkan. Apalagi kebijakan ini sangat mudah dikangkangi.</p>
<p>Sehari setelah pergi bersama paman, saya kembali lagi ke Plaza Senayan. Kali ini bersama Batari sekeluarga.</p>
<p>Mobil depan kami berhenti. Pengendaranya, seorang laki-laki, loncat turun keluar. Kemudian perempuan di sebelahnya pindah ke samping—memegang setir. Dia pun memarkir mobil ke tempat khusus itu, sementara si laki-laki cengengesan menunggu di luar.</p>
<p>Sekedar memarkirkan. Itukah pengertian “pengendara wanita”?</p>
<p>Jangan lupa juga kalau ada kemungkinan, ini hanyalah tipu-tipu pengelola gedung memanjakan pengendara wanita, supaya mereka selalu tertarik berbelanja di sana. Wah, kalau begini sih bukan lagi pelecehan tapi pembodohan.</p>
<p>Tidak boleh didiamkan. Para pegiat gerakan perempuan atau yang lebih keren disebut “feminisme” sudah sepantasnya melayangkan protes kepada beberapa pengelola gedung yang memberlakukan pembedaan.</p>
<p>Mereka sebaiknya bilang, “Kami ini ingin kesetaraan, Bung. Biarkan kami bersaing dengan laki-laki dalam mencari parkir. Berhenti manjakan kami.”</p>
<p>Tapi jika mereka rupanya sedang sibuk pada agenda lain (poligami misalnya), lembaga perlindungan konsumen boleh juga angkat suara.</p>
<p>“Baik pengendara laki-laki maupun perempuan membayar ongkos parkir sama besar. Mencari parkir sama susah. Mengejar waktu sama mepet. Punya keperluan sama besar.”</p>
<p>“Jadi mengapa, Bung, yang satu diistimewakan dibanding yang lain?”</p>
<p>______<br />
Selamat Hari Kartini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komentatorlepas.net/2008/04/tentang-parkir-khusus-pengendara-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>After prayer</title>
		<link>http://komentatorlepas.net/2008/04/after-prayer/</link>
		<comments>http://komentatorlepas.net/2008/04/after-prayer/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 18:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikram</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komentatorlepas.net/2008/04/after-prayer/</guid>
		<description><![CDATA[
Jakarta Governor Fauzi Bowo is putting his shoes on as Depok Mayor Nur Mahmudi Ismail watches.
I wonder what they were talking about. &#8220;Hey, nice shoes bro! Where&#8217;d you buy them?&#8221;
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://komentatorlepas.net/wp-content/uploads/foke-pake-sepatu.jpg" alt="foke-pake-sepatu.jpg" /></p>
<p>Jakarta Governor Fauzi Bowo is putting his shoes on as Depok Mayor Nur Mahmudi Ismail watches.</p>
<p>I wonder what they were talking about. &#8220;Hey, nice shoes bro! Where&#8217;d you buy them?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komentatorlepas.net/2008/04/after-prayer/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Saran bagi mahasiswa jurnalisme dari Mindy Mc Adams</title>
		<link>http://komentatorlepas.net/2008/04/saran-bagi-mahasiswa-jurnalisme-dari-mindy-mc-adams/</link>
		<comments>http://komentatorlepas.net/2008/04/saran-bagi-mahasiswa-jurnalisme-dari-mindy-mc-adams/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2008 01:38:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikram</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Journalism]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://komentatorlepas.net/2008/04/saran-bagi-mahasiswa-jurnalisme-dari-mindy-mc-adams/</guid>
		<description><![CDATA[Mindy Mc Adams, pengarang buku Flash           Journalism: How to Create Multimedia News Packages, punya saran bagi mahasiswa jurnalisme. Dia bilang, kalau nggak siap menjadi jurnalis setelah empat tahun kuliah, lebih baik berhenti saja. Mendingan kuliah hukum sekalian :P
Berikut ini terjemahan dari sarannya yang berjudul &#8220;Advice [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mindy Mc Adams, pengarang buku <em><a href="http://flashjournalism.com/" target="_blank">Flash           Journalism: How to Create Multimedia News Packages</a></em>, punya saran bagi mahasiswa jurnalisme. Dia bilang, kalau nggak siap menjadi jurnalis setelah empat tahun kuliah, lebih baik berhenti saja. Mendingan kuliah hukum sekalian :P</p>
<p>Berikut ini terjemahan dari sarannya yang berjudul <a href="http://mindymcadams.com/tojou/2008/advice-to-journalism-students-forget-grad-school/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Advice to journalism students: Forget grad school!">&#8220;Advice to journalism students: Forget grad school!&#8221;</a></p>
<p><span id="more-49"></span></p>
<p>______</p>
<p>Sementara <a href="http://mindymcadams.com/tojou/2008/catch-22-in-journalism-internships/">tulisan saya tentang magang</a> masih lumayan baru, saya ingin menawarkan sesuatu lagi kepada para mahasiswa jurnalisme yang ingin sekali menjadi jurnalis – dan mungkin juga kalian yang sudah berkecimpung di ruang redaksi.</p>
<p>Mahasiswa yang baik:</p>
<p>Tulisan ini diperuntukkan bagi ibu dan ayah kalian, yang mendorong-dorong kalian segera kuliah lagi setelah lulus sarjana.</p>
<p>Saya nggak mengerti kenapa orangtua kalian berpikir itu ide bagus. Mungkin di bidang yang mereka tekuni, itulah yang dikerjakan orang. Seperti bidang hukum. Kedokteran. Tapi tidak di jurnalisme. Tidak biasanya.</p>
<p>Di dalam kampus beberapa tahun belakangan ini, kita melihat pemikiran mahasiswa yang baru – yang berpikir: “Aku harus kuliah dua tahun lagi setelah lulus sarjana, supaya bisa mendapat gelar master sesegera mungkin.”</p>
<p>Ini sumpah gila jika kuliah sarjana kamu adalah jurnalisme – kecuali kalau kamu memang tidak ingin jadi wartawan. Jika kamu ingin jadi pengacara, waduh, tentu saja, keluar saja dari sini dan kuliah hukum. Tapi jika kamu ingin menjadikan jurnalisme sebagai karir, panggilan jiwa, misi hidupmu – maka carilah pekerjaan. Makin cepat, makin baik.</p>
<p>Jika kamu kuliah sarjana Bahasa Inggris, atau merajut keranjang, atau ilmu politik – maka mungkin kamu akan mendapatkan keuntungan dari program master jurnalisme profesional. Yakni, program master yang sangat mirip program sarjana jurnalisme. Tapi jika sarjana kamu memang sudah jurnalisme, izinkan saya menyadarkan kamu. Kamu dan orangtua kamu. Tolong.</p>
<p>Program pascasarjana komunikasi massa punya dua rasa. Yang pertama program tradisional. Banyak orang yang ingin jadi jurnalis betul-betul membenci program ini. Dan mahasiswa mereka juga sedikit, karena mahasiswa benci kelas mereka. Program tradisional mempelajari riset keilmuan dan statistika dan teori komunikasi massa. Ini bukan, sama sekali, tentang bagaimana menjadi seorang wartawan.</p>
<p>Rasa lainnya adalah program profesional. Dan coba tebak? Ini sangat, sangat mirip dengan program sarjana jurnalisme di Amerika Utara. Jadi kamu bakal, duh, mengambil kelas yang sama sekali lagi. Betapa membosankannya? Kamu bakal membuang waktu dua tahun dari hidupmu dengan tidak mempelajari sesuatu yang baru. Untuk apa? Untuk sebuah gelar?</p>
<p>Coba kita bahas tentang betapa tingginya para redaktur di ruang redaksi (cetak, online, elektronik) menghargai gelar master itu.</p>
<p>Nggak. Sedikit. Pun.</p>
<p>Coba deh, minta ibu dan ayah kamu menelfon beberapa orang yang kenal beberapa orang. Tanyakan kepada sejumlah redaktur apa yang mereka cari ketika mereka membekerjakan orang baru. Inilah daftarnya: Keahlian, magang, hasil karya, URL. Itulah yang mereka ingin lihat. Itulah keseluruhan daftarnya.</p>
<p>Apa yang nggak ada dalam daftar? IPK kamu. Nggak seorangpun di ruang redaksi manapun akan bertanya berapa nilai kamu. Nggak ada yang peduli di dunia sana. (Nggak ada kecuali petugas pendaftaran pascasarjana, tentu saja.)</p>
<p>Dan coba tebak? Dari segi gaji, gelar master itu nggak akan membuat perbedaan apapun dalam pekerjaan jurnalisme. Malahan, orang berumur 24 tahun yang lain akan memiliki gaji lebih besar daripada kamu – iya, kamu, si tolol yang kuliah dua tahun lebih lama.</p>
<p>Kuliah pascasarjana punya keunggulan di situasi berbeda. Misalnya, setelah kamu bekerja di bidang jurnalisme selama lima atau 10 tahun, kamu mungkin akan tahu mau belajar apa – mungkin ilmu politik, sosiologi, kriminologi, desain basis data, kesehatan masyarakat, kebijakan internasional, atau bidang lain yang akan membantu kamu menjadi jurnalis yang lebih baik di bidang khusus tertentu. Butuh beberapa waktu untuk memahami apa yang kamu suka di jurnalisme. Kebanyakan orang yang berumur 21 tahun belum tahu itu. Mereka mungkin berpikir mereka tahu (dan beberapa orang memang benar-benar tahu), tapi coba beri mereka lima tahun lalu tanya kembali.</p>
<p>(Saya kuliah master di usia 30, dan itu sangat fantastis. Saya mengambil enam kredit di animasi komputer, belajar video dokumenter gerilya, mempelajari desain antarmuka manusia-komputer, dan membaca ahli kajian media Inggris dan ahli dekonstruksi Perancis. Saya akan membenci sebagian besar pelajaran ini waktu umur 21, percaya deh! Tapi semuanya terasa berbeda ketika kamu berumur 30 – pendekatan saya terhadap sekolah benar-benar berbeda.)</p>
<p>Saya tahu kamu menyayangi orangtua, dan mereka telah merawat kamu bertahun-tahun. Tapi kali ini, mereka salah. Mereka salah karena mereka nggak pernah berbicara dengan produser berita televisi atau redaktur suratkabar atau media online. Kalau saja mereka pernah, mereka pastinya mendengar apa yang baru saja saya katakan kepada kamu (dan mereka): Tidak ada seorangpun di ruang redaksi yang akan menghargai gelar master kamu, dan ditambah lagi, nggak ada hadiah apa-apa untuk itu. Jadi kenapa juga kamu ingin gelar master? Sekarang, di saat itu nggak akan mendatangkan keuntungan apa-apa? Atau nanti, ketika itu akan berarti sesuatu, kamu nggak akan ingin kembali ke masa itu dan mengulanginya lagi.</p>
<p>Jurnalisme itu bukan ilmu tentang roket. Kamu nggak perlu memegang gelar master untuk tahu bagaimana melakukannya, dan kamu nggak bakal mahir sampai kamu keluar sekolah dan masuk ke ruang redaksi. Jurnalisme itu dipelajari dengan bekerja, dan jika kamu nggak siap melakukannya setelah empat tahun kuliah, mungkin memang kamu harusnya berhenti – dan kuliah hukum saja sekalian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://komentatorlepas.net/2008/04/saran-bagi-mahasiswa-jurnalisme-dari-mindy-mc-adams/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
