Yang mana yang benar?
Komisi Besar I Ketut Untung Yoga Ana, Kepala Hubungan Masyarakat Kepolisian Jakarta, rupanya seseorang yang cepat sekali berubah pikiran. Ini bisa kita lihat di dua berita di dua media online yang mengutip pandangannya tentang sebuah sayembara hari ini.
Sayembara itu sendiri digelar oleh Forum Betawi Rempug, dan menawarkan Rp 100 juta kepada siapapun yang berhasil menangkap pria bersenjata yang dicurigai menjadi provokator dalam insiden Monas.
Pada 15:36 WIB, di detik.com, Ketut Untung dikutip mengatakan:
“Ini baru pertama kali. Saya baru dengar. Nggak ada aturan yang melarang. Kalau begitu (buat sayembara), namanya ikut membantu mencari. Nggak masalah,”
Tapi sekitar setengah jam kemudian, pada 16:03 WIB, kepada okezone.com, dia dikutip:
“Kita tidak nanggapi. Jagan buat berita enggak mendidik. Itu berita yang tidak mendidik, buat berita yang positif lah,”
Pendirian Ketut Untung yang berubah-ubah terhadap usaha main tangkap sendiri seperti ini, sungguh disayangkan. Polisi semestinya tegas dong. Sayembara seperti itu dibolehkan tidak?
Jangan pertama bilang “nggak masalah” tapi kemudian “nggak menanggapi”. Yang mana yang benar?
Jangan bikin warganegara biasa-biasa seperti saya kembali penasaran: Apa yang kira-kira dilakukan polisi untuk meredakan kegaduhan, di saat orang-orang menangkapi satu sama lain demi Rp 100 juta?
PS. “Jagan” sepertinya salah ketik. Seharusnya “Jangan”.
18 Comments