komentatorlepas.net Jurnalisme terlalu penting untuk hanya dipercayakan kepada para wartawan, atau mereka yang mengaku wartawan.—Farid Gaban

Yang mana yang benar?

Komisi Besar I Ketut Untung Yoga Ana, Kepala Hubungan Masyarakat Kepolisian Jakarta, rupanya seseorang yang cepat sekali berubah pikiran. Ini bisa kita lihat di dua berita di dua media online yang mengutip pandangannya tentang sebuah sayembara hari ini.

Sayembara itu sendiri digelar oleh Forum Betawi Rempug, dan menawarkan Rp 100 juta kepada siapapun yang berhasil menangkap pria bersenjata yang dicurigai menjadi provokator dalam insiden Monas.

Pada 15:36 WIB, di detik.com, Ketut Untung dikutip mengatakan:

“Ini baru pertama kali. Saya baru dengar. Nggak ada aturan yang melarang. Kalau begitu (buat sayembara), namanya ikut membantu mencari. Nggak masalah,”

Tapi sekitar setengah jam kemudian, pada 16:03 WIB, kepada okezone.com, dia dikutip:

“Kita tidak nanggapi. Jagan buat berita enggak mendidik. Itu berita yang tidak mendidik, buat berita yang positif lah,”

Pendirian Ketut Untung yang berubah-ubah terhadap usaha main tangkap sendiri seperti ini, sungguh disayangkan. Polisi semestinya tegas dong. Sayembara seperti itu dibolehkan tidak?

Jangan pertama bilang “nggak masalah” tapi kemudian “nggak menanggapi”. Yang mana yang benar?

Jangan bikin warganegara biasa-biasa seperti saya kembali penasaran: Apa yang kira-kira dilakukan polisi untuk meredakan kegaduhan, di saat orang-orang menangkapi satu sama lain demi Rp 100 juta?

PS. “Jagan” sepertinya salah ketik. Seharusnya “Jangan”.


18 Comments

hahaha, kirain emang dikau yang salah ketik kram…
yah gagal mengoreksi si proofreader…

Posted by Ray Rizaldy on 24 June 2008 @ 11am

Tidak semudah itu, wahai anak muda… Ho ho ho.

Posted by ikram on 24 June 2008 @ 1pm

masalahnya, pria bersenjata itu ada nggak???? jadi pertanyaannya juga musti ditambah dengan “apakah boleh membuat sayembara dengan dasar anonimitas?”…wekekekekekekeke……

Posted by cewektulen on 24 June 2008 @ 2pm

Bolehkah aku menebak paras wajahmu. Ow ow siapa dia …

Posted by ikram on 24 June 2008 @ 2pm

Hmm, kayaknya pernah liat dimana gitu mukanya [di Tempo gitu ya? Lupa, hehe]. Tapi fotonya kayak di adobe photoshop, jadi kayak foto ’si bapak pemegang senjata’ ditempel ke foto itu, hehehehehe [mengarang bebas].

Posted by hapsarisekaradi on 26 June 2008 @ 7pm

Hehehe. Udah ketahuan siapa. Ternyata Pak Iskandar namanya.

Posted by ikram on 26 June 2008 @ 8pm

Setelah ketahuan, ada nggak yang dapat Rp.100 juta?

Posted by edratna on 28 June 2008 @ 7pm

Nah itu yang kurang jelas. Mentang-mentang ada sayembara, langsung deh ketahuan siapa si “pria bersenjata”. Heheh.

Posted by ikram on 28 June 2008 @ 8pm

bahasa mereka memang ambigu

Posted by pudakonline on 29 June 2008 @ 9am

Kayaknya kutipannya yang salah.

Posted by eftu on 1 July 2008 @ 1pm

now this is more like it,,hehehe…cadas,,kurang satu huruf doang,kram..kalo lo adi proof reader ta gw bersedia gak?hehe….

Posted by alia on 1 July 2008 @ 7pm

maksudnya posting yg sebelumnya,,he.

Posted by alia on 1 July 2008 @ 7pm

blognya bagus. bersih banget, nggak ada tempelan di kanan kiri. Ini blog organisasi atau perseorangan ya? yang jelas keep on blogging ya!! salam kenal

Posted by antown on 2 July 2008 @ 5am

Pudakonline: Ambigu? Saya rasa tidak. Ini jelas perubahan pandangan. Kecuali, sebagaimana dikatakan Eftu, wartawan yang salah mengutip ya…

Alia: Kontak2 aja Alia. Dengan senang hati :P

Antown: Ini blog perseorangan Mas, hehehe. Salam kenal juga.

Posted by ikram on 2 July 2008 @ 2pm

Btw, Eftu, blog anda kok nggak bisa dikomentari …

Posted by ikram on 2 July 2008 @ 8pm

Lagi bingung gimana caranya mendeaktifkan fungsi login to comment. Any idea mas?

Posted by Eftu on 12 July 2008 @ 2pm

Sekarang sudah bisa komentar mas. Silakan komentar sebanyak-banyaknya ya :)

Posted by Eftu on 12 July 2008 @ 2pm

Siaap!

Posted by ikram on 14 July 2008 @ 6am

Leave a Comment

Satu milenium seribu tahun Satu judul dua kekeliruan