komentatorlepas.net Jurnalisme terlalu penting untuk hanya dipercayakan kepada para wartawan, atau mereka yang mengaku wartawan.—Farid Gaban

Tentang parkir khusus pengendara perempuan

Kebijakan beberapa pengelola gedung perbelanjaan yang sengaja menyisihkan tempat parkir bagi pengendara perempuan, meski terkesan seperti penghargaan, sesungguhnya adalah sebuah pelecehan yang tidak boleh didiamkan.

Malam minggu lalu, saya bersama paman saya pergi ke Plaza Senayan. Ini salah satu di antara beberapa gedung yang menyediakan tempat parkir khusus perempuan.

Kami merasakan betul susahnya mencari tempat parkir di sana. Maklum, malam minggu. Berputar-putar setengah jam, kami tak juga menemukan tempat kosong. Ketika ada yang kosong, eh sudah dipagari rantai—buat pengendara perempuan itu.

“Lady drivers only,” tulisannya.

Para pengelola gedung semestinya menjelaskan atas dasar apa mereka menyediakan tempat parkir khusus perempuan.

Perempuan dipandang tidak sanggup mencari parkir sendiri—di tempat lain yang mungkin lebih sempit? Perempuan dipandang tak sabar keliling mencari parkir?

Kalau benar dipandang demikian, terbukti pengelola gedung memang melecehkan perempuan. Tapi kalau tidak, lantas buat apa dong ada tempat parkir khusus?

Pengelola gedung kan tidak boleh membeda-bedakan fasilitas pengunjungnya berdasarkan jenis kelamin semata.

Kalau alasannya demi melindungi perempuan dari kemungkinan terkena pelecehan seksual, sebagaimana alasan pengelola Transjakarta yang berencana menyediakan bus khusus penumpang wanita, saya masih bisa paham. Itu sebuah alasan kuat. Wanita memang harus dilindungi.

Saya saja yang kurus kering merasa risih jika harus bertempelan pantat dan pamer ketiak bersama orang lain, apalagi wanita. Lagipula yang namanya kegiatan seksual—apapun bentuknya—seharusnya berlangsung sama-sama enak. Bukan yang satu enak, yang satu lagi enek.

Tapi dalam kasus parkir khusus, perempuan dilindungi dari apa?

Benar-benar pelecehan yang tidak boleh didiamkan. Apalagi kebijakan ini sangat mudah dikangkangi.

Sehari setelah pergi bersama paman, saya kembali lagi ke Plaza Senayan. Kali ini bersama Batari sekeluarga.

Mobil depan kami berhenti. Pengendaranya, seorang laki-laki, loncat turun keluar. Kemudian perempuan di sebelahnya pindah ke samping—memegang setir. Dia pun memarkir mobil ke tempat khusus itu, sementara si laki-laki cengengesan menunggu di luar.

Sekedar memarkirkan. Itukah pengertian “pengendara wanita”?

Jangan lupa juga kalau ada kemungkinan, ini hanyalah tipu-tipu pengelola gedung memanjakan pengendara wanita, supaya mereka selalu tertarik berbelanja di sana. Wah, kalau begini sih bukan lagi pelecehan tapi pembodohan.

Tidak boleh didiamkan. Para pegiat gerakan perempuan atau yang lebih keren disebut “feminisme” sudah sepantasnya melayangkan protes kepada beberapa pengelola gedung yang memberlakukan pembedaan.

Mereka sebaiknya bilang, “Kami ini ingin kesetaraan, Bung. Biarkan kami bersaing dengan laki-laki dalam mencari parkir. Berhenti manjakan kami.”

Tapi jika mereka rupanya sedang sibuk pada agenda lain (poligami misalnya), lembaga perlindungan konsumen boleh juga angkat suara.

“Baik pengendara laki-laki maupun perempuan membayar ongkos parkir sama besar. Mencari parkir sama susah. Mengejar waktu sama mepet. Punya keperluan sama besar.”

“Jadi mengapa, Bung, yang satu diistimewakan dibanding yang lain?”

______
Selamat Hari Kartini.


21 Comments

Hehehe…mungkin karena yang tukang belanja kaum wanita, jadi dikasih tempat khusus biar rajin ke Plaza Senayan. Saya baru tahu ada hal seperyi itu, waktu beberapa minggu lalu kesana, kebetulan yang nyopir Minah (pembantu saya……saya sendiri ga bisa nyopir)….melongo juga karena melihat kenapa mobil depan berhenti, dan kemudian yang nyopir ganti perempuan sebelum memasuki area parkir di dalam gedung.

Saya setuju Ikram, ini aturan memang agak aneh. Saya sendiri lebih suka naik taksi (alasan ga bisa nyopir), karena sulungku (cowok) juga males nyopir…apalagi jika ke Ratu Plaza yang tempat parkirnya sempit.

Di kantorku yang lama (maklum sekarang udah pensiun), perempuan dan laki-laki disamakan, artinya jika suami atau anak dari pekerja perempuan sakit dan dirawat di rumah sakit), biayanya diganti kantor, risikonya perempuan juga harus mau ditempatkan dimana-mana, kalau tak mau maka harus keluar…inipun masuk dalam ketentuan PKB ( yg ditandatangani Manajemen Perusahaan dan Serikat Pekerja). Ya, inilah risikonya kalau mau disamakan…juga harus mau ditempatkan di luar pulau Jawa, padahal suami dan anak-anak di Jakarta. Memang semua ada risiko, hal tsb dulu juga diawali kaum perempuan protes, kok laki-laki enak, kalau sakit keluarganya dibiayai kantor…padahal pekerja perempuan jam kerja sama (bahkan saya saat krisis moneter, sering tidur di kantor, karena kebetulan memimpin Divisi Restrukturisasi)…

Ikram, saya sependapat kok, kalau kaum laki-laki harus memberikan tempat duduk bagi kaum ibu yang sedang menggendong anak, atau nenek-nenek..tapi hal ini juga berlaku kan kalau ketemu bapak-bapak yang tua. Kalau sama cewek muda yang cantik? Nahh lho, tanpa ada peraturanpun, kaum laki-laki dengan sukarela menyerahkan tempat duduknya. Nahh kalau ini namanya apa?

Posted by edratna on 23 April 2008 @ 6am

pada dasarnya wanita suka dibedakan. asal pembedaan itu menguntungkan. hahah.

Posted by batari on 23 April 2008 @ 8am

“Jangan lupa juga kalau ada kemungkinan, ini hanyalah tipu-tipu pengelola gedung memanjakan pengendara wanita, supaya mereka selalu tertarik berbelanja di sana. Wah, kalau begini sih bukan lagi pelecehan tapi pembodohan.”

Bener Kram..

Di balik setiap ‘perbuatan (yang keliatannya) baik’ ternyata selalu ada alasan komersial.. mungkin ini risiko tinggal di era kapitalisme dan konsumerisme ya?

Posted by Wicak Hidayat on 23 April 2008 @ 9am

setuju point ke dua hahahaha….

Posted by freely on 23 April 2008 @ 10am

@Edratna, saya tidak suka memberi tempat duduk pada perempuan muda, meski cantik. :p

Posted by daustralala on 23 April 2008 @ 10am

kalau untuk alasan misalnya memisahkan lagi2 dan perempuan karena bukan mahramnya, mungkin bisa. tapi ini kan mall, yang tentu tidak ada pembedaan seperti itu. jadi kalau hanya untuk melindungi wanita dari pelecehan seksual, atau memudahkan akses wanita terhadap parkir, gw rasa jadi nggak pada tempatnya. wanita, apalagi penggiat emansipasi- selalu berdalih wanita harus begini begitu, akses ini itu, tapi itu justru menafikan fungsi dan esensi dari wanita itu sendiri. wanita kadang terlalu sering menginginkan tidak ada pengotakan2 atas dirinya, padahal sata berbicara itu, kita sebenarnya sudah mengotakkan diri sendiri secara tidak sadar..

Posted by cewektulen on 23 April 2008 @ 1pm

Oh ya.. tapi gue juga liat sisi positifnya.. jika posisi parkir pengemudi wanita berada di tempat yang mudah diakses dan cukup penerangan (lampu bukan harmoko) juga cukup satpam.. akan lebih aman dan mencegah penyerangan terhadap wanita yang menyetir sendirian.

(wanita yang sendirian bukannya gak bisa membela diri.. tapi mungkin lebih sering jadi sasaran kriminil)

mungkin perlu ditegaskan menjadi: Parkir khusus wanita yang menyetir sendirian
?

Posted by Wicak Hidayat on 23 April 2008 @ 2pm

Bu Enny, menyerahkan bangku kepada perempuan muda yang cantik bisa kita namakan dengan “cari muka” hehehe. Padahal kalo dia duduk trus kita berdiri, jadi nggak bisa ngobrol.

Bat: Ckckckck. Itu namanya culas permen asem.

Wicak, jangan-jangan para pengelola gedung belum pernah denger istilah “emansipasi” ya?

“Emansipasi apanya? Orang ini cuma gimmick marketing kok. Biar ibu-ibu seneng kalo belanja disini”

Eh ada Mbak Yustin! Halo Mbak!

Berarti Mas Firman tidak termasuk golongan orang-orang pencari muka ya :P

Makanya Senja, kita tunggu saja komentar aktivis gerakan perempuan atau lembaga perlindungan konsumen. Apa ya kira-kira kata mereka?

Wicak lagi: Nah, kalo kaya gitu alasannya, boleh deh. Berarti kebijakan itu ada jam berlaku-nya ya? Antara jam segini sampai jam segini.

Posted by ikram on 23 April 2008 @ 9pm

Ada ‘kebijaksanaan’ seperti itu rupanya. Hm, mungkin perlu tahu dulu alasan mengapa keputusan untuk memberikan tempat parkir khusus untuk wanita, diuambil. Baru bisa berkomentar deh…
Tapi, mungkin karena dengung emansipasi sudah terdengar di semua tempat, rasanya akan lebih baik kalau peraturan tersebut tidak ada.
Toh, kalau urusan memarkir kendaraan, tak ada bedanya antara pria dan wanita. Lain lagi kalau ke kamar kecil :p

Posted by dian on 24 April 2008 @ 1pm

Betul. Kalau urusan kamar kecil kan menyangkut hajat hidup dan menyingkirkan kemungkinan2 buruk.

Tapi kalau parkir kan tidak …

Posted by ikram on 29 April 2008 @ 6pm

ih gak tau malu banget cowok itu? daku aja selalu malu karena gak bisa nyetir, apalagi klo empunya mobil cewek… mau ditaruh mana nih muka…

orang itu malah nyuruh cewek buat nyetir

Posted by Ray Rizaldy on 30 April 2008 @ 10pm

@ Ray

Kalo emang bisa dapet parkir gampang kenapa tidak. Wekekeke…

Posted by Ade on 2 May 2008 @ 5pm

hmmm, ikram lumayan sering ke Mall juga ya?
Feminist belom pada bersuara, mungkin karena jarang masuk Mall [dengan mobil pribadi]…

Posted by isnuansa on 2 May 2008 @ 6pm

Tukang parkirnya cewek jg yach ?

Posted by Bambosi on 2 May 2008 @ 9pm

Apa ini ada hubungannya, dengan cara menyentir perempuan yang katanya terlalu berhati-hati. Maaf ya Mas Ikram, kalau pas nyetir trus nyari tempat parkir, jujur aja saya super duper panik. Apalagi jika parkirnya sempit, aduh bisa nggores mobil sebelah tuh. Nah, paniknya jadi dua kali lipat kalau parkirnya muter kayak uler ke atas. Ruang sempit, panas, ditambah dorongan untuk mengejar waktu, secara psikologis bisa berdampak menurunnya ‘mood’ buat belanja.

Agaknya, ini yang ditangkap oleh pengelola mal. Saya sih, seneng-seneng aja. Parkir lancar, makin betah belanja. Moga-moga ke depan, ada juga fasilitas mengantar barang belanjaan ke parkiran khusus pembeli perempuan. Hihiihi… :)

Posted by la mendol on 3 May 2008 @ 12pm

hiya … makin diskriminatif saja kalau begitu … :)

Posted by ikram on 3 May 2008 @ 9pm

la mendol: saya ga sepakat. Cara menyetir/memarkir sama sekali tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin. Saya bukan feminist yang radikal, tapi juga bukan kaum perempuan yang mau dibeda-bedakan. Maaf ya…

=)

Posted by dian on 7 May 2008 @ 8pm

LADIES PARKING IS DISCRIMINATIVE TOWARDS MEN, NOT WOMEN… so stop whining you feminists! women should be thankful! like men would!

it’s a fact, MOST women suck in driving and through my experience, most of the middle aged women don’t have the patience and mentality to find a parking space in an overcrowded area… in short, they complain too much. you can’t blame the management for providing a decent service that is based on research! that is just plain stupid… and you hypocrit feminist out there should know there a lot of women that are actually enjoying that service! this is why i hate feminists radicals, they keep saying they don’t wanna be treated differently but when MEN attack them hard they say “BUT WE’RE WOMEN… YOU HAVE NO RIGHT TO DO THAT!!!” that is such BS! lets face it, by amount; this is a woman’s world but in reality what is it that a woman can do that men can’t better?! men are better in everything… we even cook better and design better clothes!
feminists keeps saying they want equality which in reality they want superiority… they’re like jews… denials…

in the end i’m totally confused of what these feminists want from us? would someone out there pleeease put me back in the right perspective!!!

thank you…

Posted by ahtmly2k on 26 May 2008 @ 6pm

Terimakasih untuk semua komentarnya (terutama bung ahtmly2k yang sangat bersemangat, hehe)

Pada dasarnya kesetaraan itu bagus. Makanya ayo dong, kita coba sama-sama setara dengan cara yang setara juga :)

Posted by ikram on 26 May 2008 @ 10pm

Curiga Kramput pengen tempat parkir spesial nih, hehe…
Kalo menurut gw sih, pendapat Kramput ada benarnya, terutama ttg taktik marketing. Selain itu, gw rasa para lelaki juga diuntungkan dg hal ini. Soalnya terkadang beberapa perempuan suka lama kalo parkir. (Pengalaman kalo ke mall masuk lewat basement, padahal gw naek angkot, hehe.)

Posted by evikaye on 14 June 2008 @ 4pm

Agak aneh memang memberikan tempat khusus bagi perempuan. Pengalamanku di Negeri Belanda misalnya, tempat parkir di mana-mana disediakan hanya untuk orang difabel dan kadangkala perempuan hamil. Di bis, tempat duduk disediakan terutama untuk orang tua dan difabel. Lalu ada tempat khusus yang boleh diduduki tapi harus diserahkan begitu ada yang naik dengan kursi roda atau kereta bayi.

Di Metro (kereta bawah tanah) di Paris malah ada aturan tambahan: Semua yang di atas plus veteran Perang Dunia II, hehehehe…

Betul tuh kram, teknik pemasaran aja tuh biar cewek2 pada belanja.

Posted by astronomsableng on 4 July 2008 @ 6am

Leave a Comment

After prayer Satu milenium seribu tahun