Saran bagi mahasiswa jurnalisme dari Mindy Mc Adams
Mindy Mc Adams, pengarang buku Flash Journalism: How to Create Multimedia News Packages, punya saran bagi mahasiswa jurnalisme. Dia bilang, kalau nggak siap menjadi jurnalis setelah empat tahun kuliah, lebih baik berhenti saja. Mendingan kuliah hukum sekalian :P
Berikut ini terjemahan dari sarannya yang berjudul “Advice to journalism students: Forget grad school!”
______
Sementara tulisan saya tentang magang masih lumayan baru, saya ingin menawarkan sesuatu lagi kepada para mahasiswa jurnalisme yang ingin sekali menjadi jurnalis – dan mungkin juga kalian yang sudah berkecimpung di ruang redaksi.
Mahasiswa yang baik:
Tulisan ini diperuntukkan bagi ibu dan ayah kalian, yang mendorong-dorong kalian segera kuliah lagi setelah lulus sarjana.
Saya nggak mengerti kenapa orangtua kalian berpikir itu ide bagus. Mungkin di bidang yang mereka tekuni, itulah yang dikerjakan orang. Seperti bidang hukum. Kedokteran. Tapi tidak di jurnalisme. Tidak biasanya.
Di dalam kampus beberapa tahun belakangan ini, kita melihat pemikiran mahasiswa yang baru – yang berpikir: “Aku harus kuliah dua tahun lagi setelah lulus sarjana, supaya bisa mendapat gelar master sesegera mungkin.”
Ini sumpah gila jika kuliah sarjana kamu adalah jurnalisme – kecuali kalau kamu memang tidak ingin jadi wartawan. Jika kamu ingin jadi pengacara, waduh, tentu saja, keluar saja dari sini dan kuliah hukum. Tapi jika kamu ingin menjadikan jurnalisme sebagai karir, panggilan jiwa, misi hidupmu – maka carilah pekerjaan. Makin cepat, makin baik.
Jika kamu kuliah sarjana Bahasa Inggris, atau merajut keranjang, atau ilmu politik – maka mungkin kamu akan mendapatkan keuntungan dari program master jurnalisme profesional. Yakni, program master yang sangat mirip program sarjana jurnalisme. Tapi jika sarjana kamu memang sudah jurnalisme, izinkan saya menyadarkan kamu. Kamu dan orangtua kamu. Tolong.
Program pascasarjana komunikasi massa punya dua rasa. Yang pertama program tradisional. Banyak orang yang ingin jadi jurnalis betul-betul membenci program ini. Dan mahasiswa mereka juga sedikit, karena mahasiswa benci kelas mereka. Program tradisional mempelajari riset keilmuan dan statistika dan teori komunikasi massa. Ini bukan, sama sekali, tentang bagaimana menjadi seorang wartawan.
Rasa lainnya adalah program profesional. Dan coba tebak? Ini sangat, sangat mirip dengan program sarjana jurnalisme di Amerika Utara. Jadi kamu bakal, duh, mengambil kelas yang sama sekali lagi. Betapa membosankannya? Kamu bakal membuang waktu dua tahun dari hidupmu dengan tidak mempelajari sesuatu yang baru. Untuk apa? Untuk sebuah gelar?
Coba kita bahas tentang betapa tingginya para redaktur di ruang redaksi (cetak, online, elektronik) menghargai gelar master itu.
Nggak. Sedikit. Pun.
Coba deh, minta ibu dan ayah kamu menelfon beberapa orang yang kenal beberapa orang. Tanyakan kepada sejumlah redaktur apa yang mereka cari ketika mereka membekerjakan orang baru. Inilah daftarnya: Keahlian, magang, hasil karya, URL. Itulah yang mereka ingin lihat. Itulah keseluruhan daftarnya.
Apa yang nggak ada dalam daftar? IPK kamu. Nggak seorangpun di ruang redaksi manapun akan bertanya berapa nilai kamu. Nggak ada yang peduli di dunia sana. (Nggak ada kecuali petugas pendaftaran pascasarjana, tentu saja.)
Dan coba tebak? Dari segi gaji, gelar master itu nggak akan membuat perbedaan apapun dalam pekerjaan jurnalisme. Malahan, orang berumur 24 tahun yang lain akan memiliki gaji lebih besar daripada kamu – iya, kamu, si tolol yang kuliah dua tahun lebih lama.
Kuliah pascasarjana punya keunggulan di situasi berbeda. Misalnya, setelah kamu bekerja di bidang jurnalisme selama lima atau 10 tahun, kamu mungkin akan tahu mau belajar apa – mungkin ilmu politik, sosiologi, kriminologi, desain basis data, kesehatan masyarakat, kebijakan internasional, atau bidang lain yang akan membantu kamu menjadi jurnalis yang lebih baik di bidang khusus tertentu. Butuh beberapa waktu untuk memahami apa yang kamu suka di jurnalisme. Kebanyakan orang yang berumur 21 tahun belum tahu itu. Mereka mungkin berpikir mereka tahu (dan beberapa orang memang benar-benar tahu), tapi coba beri mereka lima tahun lalu tanya kembali.
(Saya kuliah master di usia 30, dan itu sangat fantastis. Saya mengambil enam kredit di animasi komputer, belajar video dokumenter gerilya, mempelajari desain antarmuka manusia-komputer, dan membaca ahli kajian media Inggris dan ahli dekonstruksi Perancis. Saya akan membenci sebagian besar pelajaran ini waktu umur 21, percaya deh! Tapi semuanya terasa berbeda ketika kamu berumur 30 – pendekatan saya terhadap sekolah benar-benar berbeda.)
Saya tahu kamu menyayangi orangtua, dan mereka telah merawat kamu bertahun-tahun. Tapi kali ini, mereka salah. Mereka salah karena mereka nggak pernah berbicara dengan produser berita televisi atau redaktur suratkabar atau media online. Kalau saja mereka pernah, mereka pastinya mendengar apa yang baru saja saya katakan kepada kamu (dan mereka): Tidak ada seorangpun di ruang redaksi yang akan menghargai gelar master kamu, dan ditambah lagi, nggak ada hadiah apa-apa untuk itu. Jadi kenapa juga kamu ingin gelar master? Sekarang, di saat itu nggak akan mendatangkan keuntungan apa-apa? Atau nanti, ketika itu akan berarti sesuatu, kamu nggak akan ingin kembali ke masa itu dan mengulanginya lagi.
Jurnalisme itu bukan ilmu tentang roket. Kamu nggak perlu memegang gelar master untuk tahu bagaimana melakukannya, dan kamu nggak bakal mahir sampai kamu keluar sekolah dan masuk ke ruang redaksi. Jurnalisme itu dipelajari dengan bekerja, dan jika kamu nggak siap melakukannya setelah empat tahun kuliah, mungkin memang kamu harusnya berhenti – dan kuliah hukum saja sekalian.
8 Comments