komentatorlepas.net Jurnalisme terlalu penting untuk hanya dipercayakan kepada para wartawan, atau mereka yang mengaku wartawan.—Farid Gaban

Wahid atau Supandji yang semestinya diperiksa lebih dahulu?

Makin hari saya makin tidak mengerti logika mantan Presiden Abdurrahman Wahid. Terlebih setelah membaca berita Tempointeraktif ini, yang memuat pengakuan Wahid soal kedekatannya dengan Artalita Suryani. Suryani adalah pebisnis yang disangka menyuap Jaksa Urip Tri Gunawan sebesar US$660 ribu dalam kaitan kasus dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.

Pertama, ada yang salah dengan cara Wahid mengakui kedekatannya itu.

“Dia teman baik saya kok, kenapa?”

Semoga saya salah, tapi saya mendapat kesan kata kenapa itu diucapkan Wahid dengan intonasi menantang wartawan (dan karenanya menantang saya sebagai pembaca). Kenapa di situ bunyinya seperti “Saya teman dia. Terus kenapa hah?!” bukan “Saya teman dia. Ada apa ya kalau boleh tahu?”.

Ya nggak kenapa-kenapa kali Pak. Biasa aja dong situ.

Kedua, cara Wahid mengatakan dirinya ada di rumah tempat Suryani dan Tri Gunawan ditangkap. Sama seperti tadi, persoalan intonasi. Dia terkesan lagi-lagi menantang wartawan–juga saya sebagai pembaca.

“Kenapa, rumah tempat duit diserahkan itu ada saya,”

Dengan bertanya kenapa seperti itu, Abdurrahman Wahid seolah ingin mengatakan tidak ada yang salah dengan dirinya berada di tempat kejadian.

Memang tidak ada yang salah sih Pak. Tak akan ada yang berubah, hanya saja petugas Komisi Pemberantasan Korupsi mungkin dalam waktu dekat ingin bertemu anda menyusul pengakuan itu. Ah, anda tentu sudah tahu.

Dan yang terakhir, cara Abdurrahman Wahid meminta supaya Hendarman Supandji juga ikut diperiksa.

Dia juga meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memeriksa Jaksa Agung Hendarman Supandji.

Wahid mungkin sedang menggertak Supandji supaya tidak melakukan sesuatu yang berbahaya bagi dirinya. Mungkin dia punya kartu mati Supandji, mungkin juga tidak. Saya tak tahu. Belum pernah kuliah politik gertak-menggertak.

Tapi saya pernah kuliah di sebuah institut di mana logika adalah sesuatu yang sangat penting.

Coba kita lihat. Jika terjadi kejahatan di suatu tempat, siapakah yang semestinya diperiksa petugas lebih dahulu:

  1. Orang yang berada di tempat;
  2. Orang yang tidak berada di tempat?

Logika sederhana saya sih mengatakan yang (1). Tapi logika Abdurrahman Wahid malah mengatakan yang (2)–tanpa menyinggung-nyinggung nasib yang (1). Ini kan merisaukan?

Ah, makin hari saya makin tidak mengerti logika mantan Presiden Abdurrahman Wahid.

#Berita serupa di harian Surya.


21 Comments

ah..gt aja kok repot, sampeyan kan tau gus dur sering punya logika sendiri yang tidak sama dengan kebanyakan orang di Indonesia..

Posted by cewektulen on 8 March 2008 @ 4pm

Iya.. Logika yang makin hari makin saya tak mengerti …

Posted by ikram on 8 March 2008 @ 9pm

ooo.. ya wajar kram. setau gue dia memang bukan alumnus institut yang sangat mementingkan logika itu. haha.
kalo iya pake logika, mungkinkah dia berani mencalonkan diri lagi sebagai presiden?

Posted by yasmin on 10 March 2008 @ 11am

Poin yang bagus, Min. Abdurrahman Wahid jadi presiden? Nggak lagi-lagi deh :P

Posted by ikram on 11 March 2008 @ 8am

Tetapi, kram, ada yang absen dari keutuhan yang semestinya kita tahu. 1) Kita tidak tahu bagaimana wartawan menanyai Gus Dur, mereka lebih mungkin memojokkan. 2) Jika saya berada di posisi Gus Dur, saya akan melakukan hal yang sama sebagai bentuk satiris atas sikap pemerintah yang takut kotor, seperti Hendarman Supandji. Sebagaimana dalam alegori manusia gua yang dianggit Plato: kebenaran akan nampak jika dikontraskan dengan kebalikannya, semacam mengoposisibinerkan. Anyway, Gus Dur jadi presiden? No way!

Posted by irfan on 11 March 2008 @ 4pm

Memojokkan bagaimana Fan? Rasanya tidak mungkin… Beberapa kali saya membaca jawaban Wahid kepada wartawan, nadanya memang suka memancing kemarahan. Termasuk di antaranya, kalimat paling terkenal itu: “gitu aja kok repot”. Oh, betapa melecehkan bukan?

Saya juga bukan sedang membela pemerintah. Tapi logika sederhana saya mengatakan, yang lebih dahulu mesti diperiksa adalah mereka yang ada di tempat kejadian. Baru yang lain.

Wahid jadi presiden lagi? Oh please… :)

Posted by ikram on 11 March 2008 @ 6pm

jangan didengerin/dibaca kram dia mah…

Posted by daustralala on 11 March 2008 @ 6pm

Inginnya juga begitu, Mas Firman. Tapi seseorang harus angkat suara supaya jangan logika semacam itu berkuasa dan merasuk ke kepala masyarakat luas …

Posted by ikram on 11 March 2008 @ 6pm

Kalau kita negara hukum, dan hukum harus ditegakkan, paling benar adalah mengikuti pasal-pasal yang sudah tercantum dalam Kitab KUHP, dan undang-undang terkait lainnya.

Saya lupa pasalnya, tapi seingatku ada pasal, yang antara lain berbunyi..”Barangsiapa melihat, mengetahui, mendengar hal-hal yang dapat merugikan atau……harus melapor….” Jika tidak…dst nya (biasanya ada sanksi). Masalahnya benarkah penegakan hukum telah berjalan semestinya?

Hehehe…kalau bisa balik lagi, makanya saya pengin belajar hukum, sangat menarik karena dimanapun kita berada, kita harus memahami aturan hukum….

Posted by edratna on 12 March 2008 @ 6am

Bu Enny, poin yang sangat bagus! Tentu ada alasannya kan mengapa mereka yang “melihat, mengetahui, mendengar … harus melapor”?

Karena lebih sesuai bagi logika :)

Cocok banget deh Bu Enny belajar hukum!

Posted by ikram on 12 March 2008 @ 6am

Nyimpang dikit ah.. kasus BLBI ini banyak ‘menelan’ korban, tapi akar kasusnya kan ada di kreditor2 bermasalah itu ya? Sekarang mereka ada di mana setelah kasusnya dihentikan? Ngopi2 di Starbucks kah? Hehehe.

Gus Dur Presiden? aih cape deh!

Posted by wicak hidayat on 12 March 2008 @ 9am

Hahaha. Kalau pakai logikanya Abdurrahman Wahid, ya nggak apa apa kan mereka minum kopi di Starbucks? Kenapa? Kenapa?

Hehehehe. Capek deh :P

Posted by ikram on 12 March 2008 @ 1pm

mungkin si Wahid ini butuh gosip baru untuk 2009, Kram..

*ikut2 si Wahid dengan logika OOT…

Posted by leksa on 12 March 2008 @ 10pm

Iya, memang akhir-akhir ini sering hujan sih. Kenapa? Kenapa?

Posted by ikram on 12 March 2008 @ 11pm

Kenapa jadi ngomongin hujan? Kok gw nggak ngerti, hehe.

Posted by hapsari sekar adi on 13 March 2008 @ 8am

(kan ceritanya logika OOT…)

Posted by ikram on 13 March 2008 @ 8am

Emang intonasi kedengeran di koran? Bisa aja, intonasinya gak seperti itu, jadi arti kalimatnya juga berbeda.

Posted by Martin Manurung on 14 March 2008 @ 11am

Bang Martin, itu memang kesan saya semata (soal intonasi). Bisa jadi saya salah.

Semoga, saya salah.

Posted by ikram on 15 March 2008 @ 8pm

kuliah dimana kram?
institut logika bandung?

Posted by andre on 29 March 2008 @ 11pm

bisa dibilang begitu, ndre..

Posted by ikram on 5 April 2008 @ 11pm

(huruf depan pada kata sapaan ditulis kapital, seperti “Anda”-ini materi tg hrs gw kuasai sblm msk k institut logika- haha nonsense. nevermind)

telat seh, soalnya gw baru nemu blog ini lg -dari google, dan 10 halaman direktori pun muncul (gile, terkenal jg lu di dunia ini:P)-

aniwey, yg prnah gw bca di koran ntah kpn, Gus Dur tu punya “Ide sendiri yg (mungkin sangat) bagus, tapi tidak pernah ngasi tanda kalau mau belok” -gw jg bingung konteks kalimatnya sperti apa-

hal lain yg menarik bagi gw adalah “intonasi”.
memang, maksud omongan orang sampai atau tidak ke pendengar dipengaruhi dari intonasi (+gesture).
tapi yg gw ga habis pikir(kan) adalah :
“Sulit sekali menyampaikan intonasi lewat tulisan”
Walaupun beberapa kali redaksionalnya diubah, tetap saja tulisan tersebut tidak merepresentasikan maksud Si Penulis. Tulisan gusar terkesan melankolis atau sebaliknya.

(akh, institut logika ini memang menyebalkan!)

Posted by hendi on 8 April 2008 @ 7pm

Leave a Comment

Sepuluh cara menemukan kembali jurnalisme Is separate?