komentatorlepas.net Jurnalisme terlalu penting untuk hanya dipercayakan kepada para wartawan, atau mereka yang mengaku wartawan.—Farid Gaban

Sepuluh cara menemukan kembali jurnalisme

Howard Owens dari GateHouse Media punya sepuluh cara bagi wartawan “menemukan kembali” jurnalisme. Berikut ini terjemahan dari artikelnya yang berjudul “Ten things journalists can do to reinvent journalism”.

  1. Berhenti menulis untuk halaman depan. Terlalu banyak wartawan–dan saya dulu juga begini sebagai reporter–berpikir bahwa halaman depan adalah satu-satunya pembuktian kuat mereka sebagai wartawan. Pada web, tentu saja, tidak ada halaman depan–hanya stempel waktu. Lebih baik menulis cerita yang benar ketimbang cemas di mana editor akan memuat cerita kita di edisi cetak.
  2. Berhenti memperlakukan jurnalisme seperti sebuah persaingan. Memang menyenangkan mengalahkan media lain, tapi itu tidak boleh jadi satu-satunya alasan mendapatkan cerita. Menginginkan setiap cerita supaya terbit lebih dulu dari pesaing akan berujung pada kesalahan, baik dalam pelaporan maupun proses berpikir bagaimana menangani cerita itu. Nilai ekonomi dari mengalahkan pesaing pada hari-hari ini bisa dibilang nol. Nilai sebagai sumber arus informasi yang terpercaya dalam jangka waktu lama adalah signifikan. Ini bukan sebuah poin yang bertentangan, kalau dipikir-pikir.
  3. Berhenti mengirimkan cerita anda ke perlombaan penulisan/pelaporan. Ini hanya akan mendorong anda menulis demi wartawan lain, bukan demi pembaca anda.
  4. Simak pembaca anda lebih baik lagi. Hargai setiap pujian kecil yang tulus. Jika itu berupa sebuah surat atau kartu pos, tempelkan di papan buletin anda; jika itu berupa email, cetaklah dan tempel juga di situ. Jadikan pujian tulus pembaca sebagai tujuan sehari-hari. Berhenti memandang sebelah mata kritikan yang mengeluh tentang setiap hal yang dilakukan koran anda.
  5. Masukkan lebih banyak orang dalam cerita anda dan lebih sedikit gelar. Saya akan mengarang sebuah aturan khusus ini, tetapi … untuk setiap judul, anda harus mengutip dua orang yang tak punya gelar. Jadi, jika anda meliput dewan kota dan mengutip walikota dan anggota dewan, anda perlu juga memasukkan empat orang tanpa gelar. Orang biasa yang nyata. Berikan tekanan pada dampak yang dirasakan orang biasa, bukan hanya apa yang dikatakan orang tentang sebuah isu atau kejadian. Coba lihat berapa banyak cerita tentang dewan kota yang anda bisa tulis dalam sebulan tanpa sekalipun menyebut pejabat terpilih/yang ditunjuk.
  6. Jangan meliput proses. Liputlah cerita sebenarnya. Cerita sebenarnya memuat orang biasa, dengan hal-hal nyata yang hendak dikatakan, tentang hal nyata yang mempengaruhi kehidupan mereka.
  7. Kuasai subjek yang anda liput. Anda harus lebih paham liputan anda dari semua sumber. Ini akan menolong anda menghindari “konon katanya”. Membuat anda lebih mampu menulis cerita yang dalam, dan memberi anda keyakinan untuk menambah perspektif. Anda juga akan bisa menggali lebih banyak cerita yang lebih baik lagi.
  8. Lupakan anggapan-palsu objektivitas. Sebaliknya, berusahalah adil, jujur, tak berpihak, dan akurat.
  9. Jadilah akurat. Selalu. Menjadi akurat bukanlah sekedar mendapatkan fakta yang benar. Dia membimbing pendekatan anda sepenuhnya terhadap sebuah cerita. Sebagian dari menjadi akurat artinya anda tidak pernah membesar-besarkan. Tidak pernah. Anda takkan pernah menggoreng konflik hanya supaya cerita halaman satu yang lebih keren. Anda takkan pernah memotong kutipan supaya jadi lebih dramatis, atau mengutak-atiknya demi menekankan sebuah hal.
  10. Liputlah masyarakat anda layaknya kampung halaman anda—dan semoga saja iya—libatkan diri anda dalam masyarakat dan pedulikan orang-orangnya. Meski kenyataan bisa saja mengganggu, dan anda bisa saja harus pindah suatu hari nanti, setidaknya ketika anda sedang meliput sekelompok masyarakat, bangunlah pemikiran bahwa anda akan tinggal selamanya meliput kota ini, atau topik ini.

Sepuluh cara yang bagus. Saya ingin deh menerapkannya dalam pekerjaan saya sehari-hari…


22 Comments

Bagus panduannya…untuk menulis di blog pun bisa digunakan, siapa tahu nantinya bisa menjadi penulis lepas…hehehe
Btw Ikram, apa kabar?
Rumah barunya lebih ramah, dan lebih mudah untuk disambangi….

Posted by edratna on 20 February 2008 @ 5pm

Lebih mudah mencari yang tidak menerapkan sepuluh cara di atas yah.

Posted by Azhar on 20 February 2008 @ 9pm

Kabar baik Bu Enny. Sedikit sibuk. Azhar: Lebih mudah bagaimana?

Posted by ikram on 20 February 2008 @ 10pm

Hohoho, buat latihan di boul tuh

Posted by Ray Rizaldy on 20 February 2008 @ 10pm

wah ini petunjuk buat blogger baru sperti saya..

Posted by hanggadamai on 22 February 2008 @ 11pm

Halo Hanggadamai :)

Posted by ikram on 23 February 2008 @ 1pm

sesungguhnya tips itu yang kini sedang banyak ditinggalkan oleh awak media…

Posted by cewektulen on 23 February 2008 @ 7pm

Tentang poin-point diatas, sepertinya lebih kepada urusan “hati” yaa? …kalau kata gw…

wartawan yang memakai Hati di zaman sekarang? beuhh…
gw ngeliatnya lebih kayak ngadu keren2an teknik menulis, ngegaya dengan titel S1 paling bonafit, dan bangga2an duluan ngangkat berita…
halaahh,..sapa gue yak…

selamat rumah barunya, Kram…

Posted by leksa on 24 February 2008 @ 2am

ayo semua saingan sama ikram :)

Posted by sandy eggi on 24 February 2008 @ 8am

adapun semua kegalauan itu hanya milik media mainstream, yang mungkin lebih berpikiran kapitalistik dibanding mengusung idealisme sebagai pilar ke-lima demokrasi.
nah, sudah ada kan citizen journalism yang tidak peduli soal semua bias yang kadung membuat halimun di wajah jurnalism?

saatnya membuat benteng kukuh bernama cit-rep! dijamin bebas dari rasa takut gak bakal dimuat..he2

Posted by rusle on 24 February 2008 @ 3pm

itu yg di paling pojok kanan atas, fotonya Jeff Jarvis ya??

Posted by Sigit Kusumanugraha on 24 February 2008 @ 5pm

Benar Senja. Makanya sepuluh tips ini diusulkan untuk “menemukan kembali” jurnalisme. Demi masyarakat, bukan demi gengsi dan praktek2 yang disebutkan Leksa.

Daeng Rusle, mungkin yang dimaksud adalah pilar ke-4 demokrasi? :D Inilah yang sebaiknya dilakukan jurnalisme — baik yang konvensional maupun yang citizen…

Sandy: Kok saingan? Mendingan belajar bareng-bareng bukan? Dan untuk Sigit: Itu foto kembarannya :D

Terimakasih,
Ikram

Posted by ikram on 24 February 2008 @ 6pm

wah, gw setuju banget sama elo kram!!!

dari dulu gw selalu dijadiin saingan seseorang, pas SMP, SMA, sampe pas kuliah kemaren. Padahal gw gak pernah peduli sama yg namanya persaingan itu, gw lebih mikirin mari belajar bersama2 biar semua orang tau, atau mari berkarya demi masyarakat.

dan aksi2 “persaingan” mereka tuh berbahaya, sampe2 pake sabotase, menjatuhkan, dll

klo kata gw, gak ada tuh yg namanya persaingan sehat.

persaingan sehat?? BULLSHIT!!!

Posted by sigit on 25 February 2008 @ 10am

Wah, Mas Ikram.

Di kantor saya, justru mewajibkan para wartawannya, untuk aktif mengikuti lomba. Ini bisa jadi point buat wartawannya. Lagian tulisan yang dikirim khan yang sudah dimuat.

Posted by la mendol on 25 February 2008 @ 6pm

La Mendol (hehe, nama yang lucu),

Justru itu. Perlombaan hanya akan mendatangkan kredit/penghargaan bagi sang wartawan–supaya dia terkesan lebih baik dari wartawan lain. Tapi buat pembaca apa untungnya?

Ini mungkin yang dimaksud Owens sebagai “demi wartawan lain”.

Karya yang diperlombakan memang yang sudah dimuat. Tapi jangan-jangan karya itu sengaja dibuat guna mengikuti lomba? :P

Memang sih, kalau sudah menyangkut motivasi, susah untuk diselidiki persisnya bagaimana….

Posted by ikram on 26 February 2008 @ 12am

Kok “menemukan kembali” ?
Gw baca’y cnderung “baru nemuin”. Atau “temukanlah”..

(apa kabarmukah?siap nine ball?:P)

Posted by hendi on 1 March 2008 @ 7pm

Hendi, “menemukan kembali” saya terjemahkan dari “reinvent”…

Nine ball? Siaaap :P

Posted by ikram on 2 March 2008 @ 9am

Btw elo dah siap kalah?! Hahaha.

Posted by ikram on 2 March 2008 @ 9am

Kayaknya saya tahu deh orang yang harus baca ini..

By the way, gosipnya belum selesai sampai kemarin..

:P

Posted by Astrid Dita on 16 March 2008 @ 9am

Kalau begitu mari dilanjutkan :)

Posted by ikram on 18 March 2008 @ 5pm

pindah ke sini?
thx infonya ya

Posted by kw on 22 March 2008 @ 6pm

Sama-sama..

Posted by ikram on 23 March 2008 @ 4am

Leave a Comment

Megawati sebaiknya berhenti menggempur SBY Wahid atau Supandji yang semestinya diperiksa lebih dahulu?