‘Tim sukses’
Adalah mengherankan bagi saya menonton atau membaca berita mengenai “tim sukses” akhir-akhir ini. Terlebih menjelang pemilihan gubernur Jakarta pada awal bulan muka. Hampir tiada hari tanpa berita soal tim sukses Anu begitu dan tim sukses Ani begini. Seingat saya tidak ada sebelumnya perhelatan pemilihan kepala daerah yang menyita perhatian sebesar pemilihan gubernur Jakarta ini – huh, dasar sentralisasi menyebalkan.
Mengapa mengherankan? Sebab pengertian “tim sukses” tidaklah jelas benar. Apa sih tim sukses itu? Sebuah tim yang sukses/berhasil? Kan belum tentu.
Sejarah mencatat (sengaja saya tuliskan kata “sejarah” supaya Zen dkk. berminat menanggapi hehe) tim sukses Wiranto, Megawati, Amien Rais, dan Hamzah Haz sebagai “tim sukses yang gagal” dalam pemilihan Presiden pada 2004 silam.
Padahal, bagaimana mungkin tim sukses bisa gagal? Itu kan contradictio in terminis.
Sebenarnya ada pilihan kata yang lebih baik, yang sebenarnya sudah juga digunakan selama ini, yaitu “tim kampanye”. Pengertiannya pun sangat jelas: sebuah tim yang berkampanye atau mempersiapkan urusan kampanye bagi si calon gubernur. Tidak akan tercipta kontradiksi bila tim ini gagal atau berhasil.
(Melalui pencarian lewat Google.co.id saya mendapatkan 2530 artikel dengan “tim sukses” dan 1230 “tim kampanye” di Kompas.com. Sementara, di Tempointeraktif.com keadaannya terbalik; 4030 “tim sukses” dan 5530 “tim kampanye”)
Lantas mengapa media lebih memilih “tim sukses” daripada “tim kampanye” – atau setidaknya menuliskan keduanya berdampingan?
Akan jauh lebih baik bagi media bila mereka tidak genit menulis “tim sukses”. Akan lebih tercerahkan bagi masyarakat bila media tetap bertahan dengan “tim kampanye”.
Ada beberapa alasan:
Pertama, jika yang dimaksudkan dengan “tim sukses” adalah tim yang berusaha menyukseskan si calon, maka frase itu kurang “kena”. Semestinya “tim penyukses”. Jadi jika tim ini gagal atau berhasil, takkan ada kontradiksi. Secara logika pun lebih tepat.
Kedua, bukankah parameter sukses/keberhasilan hanyalah kemenangan dalam pemilihan? Si Anu menang, tim kampanye Anu sukses. Si Ani kalah, tim kampanye Ani gagal. Sesederhana itu bukan?
Nah supaya menang, si Anu butuh jumlah suara yang lebih banyak dari si Ani. Berlaku juga sebaliknya. Dalam rangka meraup suara sebanyak mungkin, mereka mengajak-membujuk-merayu masyarakat untuk memilih dirinya – itulah yang namanya “kampanye”.
Jadi apapun yang dilakukan sebuah tim untuk menyukseskan calonnya, sebenarnya setali tiga uang dengan kampanye. Buat apa bikin kosakata baru yang tak jelas – “tim sukses” – kalau begitu?
Ketiga, ini lebih didasarkan pada prasangka buruk. Saya curiga frase “tim sukses” dimunculkan (coined) oleh tim kampanye itu sendiri untuk mengesankan mereka sudah sukses. Kalau kecurigaan ini benar, bayangkan betapa senangnya mereka mendapatkan pertolongan media demi mengesankan kesuksesan itu, dengan gratis pula. Bayangkan pula betapa tololnya media yang tanggungjawab pertamanya ada pada publik, bukan politisi, dengan memberi pertolongan seperti itu.
Juga bayangkan betapa ruginya masyarakat, dengan didadahkan pencitraan seperti itu.
Besar harapan saya, ke depannya media akan kembali bertahan kuno dengan menulis “tim kampanye” dan tidak genit dengan “tim sukses”. Menjadi kuno kan bukan dosa sepanjang alasannya tepat?
No Comments Yet