May 15
May 15
Azyumardi Azra, mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah, mungkin sedang menulis terburu-buru sehingga tidak ingat bahwa satu milenium itu seribu tahun, bukan seratus.
Itulah sebabnya dalam kolomnya di Republika hari ini, kita bisa menemukan tiga kata “milenium” yang tidak pada tempatnya.
Sekiranya yang dimaksud adalah seratus tahun, sebaiknya semua “milenium” diganti “abad”.
Dan sekiranya Pak Azyumardi Azra butuh proofreader pribadi, sebaiknya… Ah nggak jadi ah hehehe :P
Apr 23
Kebijakan beberapa pengelola gedung perbelanjaan yang sengaja menyisihkan tempat parkir bagi pengendara perempuan, meski terkesan seperti penghargaan, sesungguhnya adalah sebuah pelecehan yang tidak boleh didiamkan.
Malam minggu lalu, saya bersama paman saya pergi ke Plaza Senayan. Ini salah satu di antara beberapa gedung yang menyediakan tempat parkir khusus perempuan.
Kami merasakan betul susahnya mencari tempat parkir di sana. Maklum, malam minggu. Berputar-putar setengah jam, kami tak juga menemukan tempat kosong. Ketika ada yang kosong, eh sudah dipagari rantai—buat pengendara perempuan itu.
“Lady drivers only,” tulisannya.
Para pengelola gedung semestinya menjelaskan atas dasar apa mereka menyediakan tempat parkir khusus perempuan.
Perempuan dipandang tidak sanggup mencari parkir sendiri—di tempat lain yang mungkin lebih sempit? Perempuan dipandang tak sabar keliling mencari parkir?
Kalau benar dipandang demikian, terbukti pengelola gedung memang melecehkan perempuan. Tapi kalau tidak, lantas buat apa dong ada tempat parkir khusus?
Pengelola gedung kan tidak boleh membeda-bedakan fasilitas pengunjungnya berdasarkan jenis kelamin semata.
Kalau alasannya demi melindungi perempuan dari kemungkinan terkena pelecehan seksual, sebagaimana alasan pengelola Transjakarta yang berencana menyediakan bus khusus penumpang wanita, saya masih bisa paham. Itu sebuah alasan kuat. Wanita memang harus dilindungi.
Saya saja yang kurus kering merasa risih jika harus bertempelan pantat dan pamer ketiak bersama orang lain, apalagi wanita. Lagipula yang namanya kegiatan seksual—apapun bentuknya—seharusnya berlangsung sama-sama enak. Bukan yang satu enak, yang satu lagi enek.
Tapi dalam kasus parkir khusus, perempuan dilindungi dari apa?
Benar-benar pelecehan yang tidak boleh didiamkan. Apalagi kebijakan ini sangat mudah dikangkangi.
Sehari setelah pergi bersama paman, saya kembali lagi ke Plaza Senayan. Kali ini bersama Batari sekeluarga.
Mobil depan kami berhenti. Pengendaranya, seorang laki-laki, loncat turun keluar. Kemudian perempuan di sebelahnya pindah ke samping—memegang setir. Dia pun memarkir mobil ke tempat khusus itu, sementara si laki-laki cengengesan menunggu di luar.
Sekedar memarkirkan. Itukah pengertian “pengendara wanita”?
Jangan lupa juga kalau ada kemungkinan, ini hanyalah tipu-tipu pengelola gedung memanjakan pengendara wanita, supaya mereka selalu tertarik berbelanja di sana. Wah, kalau begini sih bukan lagi pelecehan tapi pembodohan.
Tidak boleh didiamkan. Para pegiat gerakan perempuan atau yang lebih keren disebut “feminisme” sudah sepantasnya melayangkan protes kepada beberapa pengelola gedung yang memberlakukan pembedaan.
Mereka sebaiknya bilang, “Kami ini ingin kesetaraan, Bung. Biarkan kami bersaing dengan laki-laki dalam mencari parkir. Berhenti manjakan kami.”
Tapi jika mereka rupanya sedang sibuk pada agenda lain (poligami misalnya), lembaga perlindungan konsumen boleh juga angkat suara.
“Baik pengendara laki-laki maupun perempuan membayar ongkos parkir sama besar. Mencari parkir sama susah. Mengejar waktu sama mepet. Punya keperluan sama besar.”
“Jadi mengapa, Bung, yang satu diistimewakan dibanding yang lain?”
______
Selamat Hari Kartini.
Apr 19

Jakarta Governor Fauzi Bowo is putting his shoes on as Depok Mayor Nur Mahmudi Ismail watches.
I wonder what they were talking about. “Hey, nice shoes bro! Where’d you buy them?”